Ruwatan

Ruwatan adalah satu upacara spiritual supaya orang terbebas dari segala macam kesialan hidup, nasib jelek, aura negatif dan supaya selanjutnya bisa hidup selamat sejahtera dan bahagia.

Arti Ruwatan

Ruwatan atau yang sering disebut dengan ruwatan sengkala merupakan terdiri dari dua kata Ruwat yang memiliki makna “Membebaskan, Melenyapkan” serta suku kata yang ke dua yaitu Sengkala yang memiliki makna “Kesialan, Petaka, Marabahaya”. Jadi makna ruwatan sengkala adalah membuang kesialan dan malapetaka.

Ruwatan sengkala diperuntukkan bagi orang yang dalam perjalanan hidupnya mendapat hambatan dalam rejeki, karier, jodoh, serta kesehatan. Termasuk bagi pasangan suami istri yang mendapat gangguan dalam pernikahannya oleh hadirnya orang ketiga atau godaan-godaan lainnya.

Ruwatan dalam Sejarah Wayang

Dalam cerita “wayang“ dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa (Jawa Tengah) awalnya diperkirakan berkembang di dalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut “Kama salah kendang gumulung”. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi, agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/purwakala berasal dari kata purwa (asal muasal manusia), dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran: atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).

Macam-Macam Ruwatan

Ritual ruwat untuk diri sendiri

Biasanya seorang yang merasa selalu gagal dalam hal percintaan, karir atau kesialan-kesialan hidup akan membutuhkan ruwatan untuk dirinya sendiri. Sehingga setelah diruwat, permasalahan dalam hidupnya akan berangsur-angsur hilang dan hidupnya dipenuhi kesuksesan.

Ritual ruwat untuk lingkungan

Ruwatan ini biasanya dilakukan pada lingkungan tempat seseorang seperti rumah, toko atau warung. Hal ini akan membantu warung yang sebelumnya selalu sepi menjadi ramai. Dan hawa negatif suatu rumah menjadi hilang.

Ritual ruwat untuk wilayah

Ruwatan untuk wilayah jarang dilakukan. Namun ini bisa dilakukan ketika dirasa wilayah tertentu sering membawa sial seperti rawan kecelakaan atau hal-hal yang merugikan banyak orang.

Cara Ruwatan

Ruwatan biasanya dilakukan dengan ritual yang melibatkan banyak ubarampe dan bacaan sangat panjang. Mantra, tembang atau kidung ruwatan biasanya sampai berlembar-lembar yang tidak semua orang memahami bahasanya. Namun cara lain ruwatan juga bisa dilakukan dengan mandi bunga atau dengan media garam ruwatan. Perbedaan cara ruwatan ini biasanya tergantung dari cara paranormal yang membimbing.

Referensi

  1. http://www.ruwatan.com/
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Ruwat
Bagikan informasi ke teman-teman melalui
Sidebar