Danyang

Danyang adalah roh halus tertinggi yang tinggal di pohon, gunung, sumber mata air, desa, mata angin, atau bukit. Danyang dipercaya (oleh masyarakat Jawa khususnya) menetap pada suatu tempat yang disebut punden. 

Deskripsi

Para danyang diyakini menerima permohonan orang yang meminta pertolongan. Imbalan yang mesti diberikan kepada danyang adalah slametan. Danyang merupakan roh halus yang tidak mengganggu ataupun menyakiti, melainkan melindungi. Danyang sebenarnya roh para tokoh pendahulu atau leluhur sebuah desa yang sudah meninggal. Para leluhur ini adalah pendiri sebuah desa atau orang pertama yang membuka lahan suatu desa.

Sejarah

Arti Kata

Danyang itu kata yang sebenarnya dari kata Dzat Hyang, yang artinya Dzat adalah zat, Hyang dari kata Hyang Agung atau Gusti Allah, jadi Dzat Hyang adalah Dzat dari Gusti Allah yang diutus tinggal disuatu tempat, karena lidah orang Jawa saja dari kata Dzat Hyang menjadi Danyang.

Asal Mula

Danyang desa, ketika masih hidup sebagai manusia, datang ke sebuah daerah yang masih berupa hutan belantara, lalu membersihkan daerah itu untuk kemudian mendirikan sebuah desa. Danyang tersebut kemudian yang berperan menjadi lurah atau pemimpin desa tersebut. Dia berhak untuk membagikan tanah kepada pengikut atau keluarganya. Ketika meninggal danyang biasanya dimakamkan di dekat pusat desa yang kemudian menjadi punden. Maka punden menjadi tempat yang cukup dihormati di sebuah desa. Danyang akan selalu memperhatikan kesejahteraan desanya dan melindunginya walaupun ia sudah mati. Akan tetapi, tidak semua desa mempunyai makam khusus untuk para Danyangnya.

Danyang dan Pulung

Roh para danyang masih diyakini secara magis mengawasi dan menentukan siapa yang akan menjadi kepala desa. Roh danyang akan menjelma menjadi pulung. Beberapa orang bisa melihat pulung itu turun kepada calon yang terpilih pada malam sebelum pemilihan. Pulung berbentuk seperti bulan yang bersinar dan bergerak menuju rumah calon kepala desa yang dikehendaki danyang. Hanya ada satu pulung untuk setiap desa, maka ketika seorang kepala desa meninggal atau mundur, pulung akan meninggalkannya dan mencari lurah baru. Para calon kepala desa biasanya melakukan banyak cara untuk menarik pulung itu, salah satunya dengan slametan.

Kumara

Kumara adalah daerah yang berada di bawah kekuasaan danyang desa. Kumara atau kemara artinya suara yang muncul dari kekosongan. Misalnya ketika seorang dukun ternama di sebuah desa meninggal, maka akan terdengar suara yang muncul tiba-tiba tanpa diketahui asalnya. Maka kumara adalah seluruh ruang angkasa desa, tidak hanya yang berada di atas permukaan tanah.

Anak Danyang

Anak danyang merupakan roh halus yang membantu danyang untuk yang mengawasi dan melindungi desa. Anak-anak danyang tinggal masing-masing di keempat sudut atau pojok desa.

Referensi

Thomas Wiyasa Bratawijaya (1997). Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa. Jakarta: Pradnya Paramita. hlm. 233. ISBN 979-408-394-1.

Suwardi Endraswara (2005). Buku Pinter Budaya Jawa. Yogyakarta: Gelombang Pasang. hlm. 77,80. ISBN 979-98385-8-4.

Bagikan informasi ke teman-teman melalui
Sidebar